Jumat, 31 Maret 2017

Morfologi Bahasa

A. Pengertian Morfologi
      Morfologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik (Ramlan, 1987: 21). Morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya; bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian-bagian kata yakni morfem (Kridalaksana, 1993: 51). Morfologi adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan bentuk kata (Keraf, 1984: 51).
Berdasarkan pendapat beberapa diatas dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari tentang seluk-beluk pembentukan kata.

B. Proses Morfologi
     Dalam Bahasa Indonesia morfologi terbagi atas 3 proses yaitu proses  pembubuhan  afiks  (afiksasi),  proses pengulangan  (reduplikasi),  dan  proses  pemajemukan  (pemajemukan).
➽Proses afiks (afiksasi)
Afiks adalah bentuk kata terikat yang apabila ditambahkan pada kata dasar atau bentuk dasar akan mengubah makna gramatikal. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dll.
Afiksasi terdiri atas:
1. Prefiks: Imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, seb).
Contoh:
Main           Kata dasar
Ber              Imbuhan
Sehingga menjadi “Bermain”

2. Sufiks: Imbuhan yang ditambahkan pada bagian belakang kata dasar (–kan, –an, –i).
Contoh:
Teman            Kata dasar
-i                      Imbuhan
Sehingga menjadi “Temani”

3. Infiks: Imbuhan yang disisipkan di tengah kata (–el-, -em-, -er-).
Contoh:
Luhur           Kata dasar
-el-                Imbuhan
Sehingga menjadi “Leluhur”

4. Konfiks: Imbuhan bentuk kata yang terjadi daridua unsur yang terpisah (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i,me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an).
Contoh:
Sepakat          Kata dasar
ke-an              Imbuhan
Sehingga menjadi “Kesepakatan”

5. Simulfiks: Imbuhan bentuk kata yang tidak berbentuk suku kata dan yang ditambahkan atau di leburkan pada dasar (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).
Contoh:
Temu                        Kata dasar
memper-kan           Imbuhan
Sehingga menjadi “Mempertemukan”

➽Pengulangan (Reduplikasi)
     Pengulangan atau redupliksai adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar.
Cara Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
     Pengulangan tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek Contoh : Berkata – kata dari bentuk dasar berkata. Bentuk  dasar  berupa  satuan  dalam  kehidupan  bahasa  Indonesia. Contoh : Mepertahan – tahankan.

Macam – Macam Pengulangan
1. Pengulangan Seluruh
     Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar,tanpa perubahan fonem  dan tidak berkombinasi dengan proses perubahan afiks., misalnya gunung menjadi gunung-gunung.
2. Pengulangan sebagian
    Pengulangan sebagian  ialah  pengulangan  sebagian  dari  bentuk  dasarnya. misalnya lihat menjadi melihat-lihat.
3. Pengulangan Yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks
     Pengulangan  yang  berkombinasi  dengan  proses  pembubuhan afiks  yaitu,  bentuk  dasar diulang  seluruhnya  dan  berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulanag itu terjadi bersama – sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama –sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya, mobil menjadi mobil-mobilan.
Pengulangan  Dengan  Perubahan  Fonem  Kata  ulang  yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit Disamping bolak – balik terdapat kata kebalikannya, sebaliknya, dibalik, membalik, dari perbandingan itu dapat disimpulkan bahwa kata bolak – balik dibentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /a/, menjadi /o/, dan dari /i/, menjadi /a/.
Ruang Lingkup Morfologi
Morfem
Morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna secara relatife stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (KBBI).

Jenis-jenis morfem sebagai berikut
Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.
Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam  yaitu  morfem  bersifat  aditif (tambahan)  yang  bersifat  replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat  urutan, sisipan,dan simultan.
Contoh  morfem  yang  bersifat  urutan  terdapat  pada  kata  berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat kita lihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata  seperti  /k∂hujanan/.  /k∂siaηgan/  dan  sebagainya.
Ditinjau dari Distribusinya
Morfem bebas yaitu morfem yang secara potensial dapat berdiri sendiri dalamsuatu kalimat, contohnya saya, duduk, dan kursi.
Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an.

Daftar Pustaka
http://file.upi.edu/Direktori/KD-SUMEDANG/197212262005011002-PRANA_DWIJA_ISWARA/Tugas%20Kuliah/Kapita%20Selekta%20Bahasa%20Indonesia/2011/Morfologi.pdf
https://httpterang.files.wordpress.com/2011/03/matakuliah-morfologi.ppt
Kamus Besar Bahasa Indonesia




Menentukan morfem bebas dan morfem terikat
Air adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup tak terkecuali manusia. Dalam keseharian kita mulai bangun tidur hingga tidur kembali, semuanya tak terlepas dari keterbutuhan akan air. Pagi hari kita memerlukan air untuk berwudhu, mandi, minum, memasak, mencuci, dan seterusnya. Belum lagi kebutuhan air di waktu siang sampai malam hari. Bayangkan jika air tak lagi kita jumpai dalam kehidupan kita.
Paragraf diatas terdiri atas 87 morfem
Morfem bebas terdiri atas 59 morfem
Morfem terikat terdiri atas 14 morfem
                Yaitu kehidupan, Terkecuali, Keseharian, Semuanya, Terlepas, Keterbutuhan, Memerlukan, Berwudhu, Memasak, Mencuci, Seterusnya, Kebutuhan, Bayangkan, Kehidupan.

Sabtu, 25 Maret 2017

fonologi bahasa



A.      Pengertian Fonologi
Fonologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari  tentang bunyi-bunyi bahasa. Kata fonologi berasal dari gabungan kata fon (bunyi) dan logi (ilmu).
B.      Cabang Fonologi


 







1.      Kajian Fonetik
a.      Klasifikasi Bunyi
v  Berdasarkan  ada  tidaknya  rintangan  terhadap  arus  udara dalam saluran suara.
a)      Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi.
b)      Konsonan  adalah  bunyi  bahasa  yang  dibentuk  dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi.
c)      Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan,  tetapi  karena  pada  waktu  diartikulasikan  belum membentuk konsonan murni.

v  Berdasarkan jalan keluarnya arus udara.
a)      Bunyi nasal, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menutup arus udara ke  luar melalui rongga mulut dan membuka jalan agar arus udara dapat keluar melalui rongga hidung.
b)      Bunyi  oral,  yaitu  bunyi  yang  dihasilkan  dengan  jalan mengangkat  ujung  anak  tekak  mendekati  langit-langit  lunak untuk  menutupi  rongga  hidung,  sehingga  arus  udara  keluar melalui mulut.

v  Berdasarkan ada tidaknya ketegangan arus udara saat bunyi di artikulasikan.
a)      Bunyi  keras  (fortis),  yaitu  bunyi  bahasa  yang  pada  waktu diartikulasikan disertai ketegangan kuat arus.
b)      Bunyi lunak (lenis), yaitu bunyi yang pada waktu diartikulasikan tidak disertai ketegangan kuat arus.
v  Berdasarkan  lamanya  bunyi  pada  waktu  diucapkan  atau diartikulasikan
a) Bunyi panjang
b) Bunyi pendek


v  Berdasarkan derajat kenyaringannya
Bunyi dibedakan menjadi bunyi nyaring dan bunyi tak nyaring. Derajat  kenyaringan  ditentukan  oleh  luas  atau  besarnya  ruang resonansi pada waktu bunyi diucapkan. Makin luas ruang resonansi saluran  bicara  waktu  membentuk  bunti,  makin  tinggi  derajat kenyaringannya. Begitu pula sebaliknya.
v  Berdasarkan perwujudannya dalam suku kata
a)       Bunyi tunggal, yaitu bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata (semua bunyi vokal atau monoftong dan konsonan).
b)      Bunyi rangkap, yaitu dua bunyi atau lebih yang terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap terdiri dari
c)      Diftong (vokal rangkap) : [ai], [au] dan [oi].
d)      Klaster (gugus konsonan) : [pr], [kr], [tr] dan [bl].

v  Berdasarkan arus udara


 











b.      Pembentukan Vokal, Konsonan, Diftong, dan Kluster
1)      Pembentukan vocal
                        Vocal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh arus udara dari paru-paru melalui pita suara dan penyempitan pada saluran suara diatas glotis (KBBI). Berikut ini jenisjenis vokal berdasarkan cara pembentukannya, yakni:
1.   Berdasarkan bentuk bibir : vokal bulat, vokal netral, dan vocal tak bulat;
2.   Berdasarkan tinggi rendahnya lidah : vokal tinggi ([i],[l],[u]), vokal madya ([e],[o],[c]) dan vokal rendah [a].
3.   Berdasarkan bagian lidah yang bergerak : vokal depan ([i],[l],[e],[a]), vocal tengah [a], dan vokal belakang ([o],[c],[u],
4.    Berdasarkan strukturnya : vokal tertutup, vokal semi-tertutup ([e], [o],[l],[U]), vokal semi-terbuka ([a],[c]), dan vokal terbuka [a].
2)      Pembentukan konsonan
Konsonan adalah bunyi bahasa yang dihasilakn dengan menghambat aliran udara pada salah satu tempat di saluran di atas glotis (KBBI). Berikut ini klasifikasi konsonan tersebut:
1.      Berdasarkan daerah artikulasi : konsonan bilabial, labio dental, apikodental, apikoalveolar, palatal, velar, glotal, dan laringal;
2.      Berdasarkan cara artikulasi : konsonan hambat, frikatif, getar, lateral, nasal, dan semi-vokal;
3.      Berdasarkan  keadaan  pita  suara  :  konsonan  bersuara  dan konsonan tak bersuara;
Ø  Konsonan bersuara, yaitu bila pita suara turut bergetar: b, d n. g, w, dan sebagainya.
Ø  konsonan tak bersuara, yaitu bila pita suara tidak bergetar: p, t, c, k, dan sebagainya.
4.      Berdasarkan  jalan  keluarnya  udara  :  konsonan  oral  dan konsonan nasal.
Ø  Konsonan oral, yaitu bila udaranya keluar melalui rongga mulut (mulut = Latin: os, -oris), misalnya p, b, k, d, w, dan sebagainya.
Ø  konsonan nasal, yaitu bila udaranya keluar melalui rongga hidung (hidung = Latin: nasus), misalnya: m. n, ny, ng.
3)      Pembentukan diftong
Diftong adalah bunyi vocal rangkap yang tergolong dalam satu suku kata.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia diftong terbagi menjadi:
a.      Diftong lebar: Diftong yang terjadi dengan perubahan letak lidah yang agak banyak. Contohnya ai pada santai.
b.      Diftong naik: Diftong yang bagian paling nyaringnya  terdapat sesudah peluncurannya.
c.       Diftong sempit: Diftong yang terjadi dengan sedikit perubahan letak lidah. Contohnya ei pada survey.
d.      Diftong turun:n Diftong yang bagian paling nyaringnya terdapat sebelum peluncurannya. Contohnya au pada kerbau.
4)      Pembentukan Kluster
Gugus  atau  kluster  adalah  deretan  konsonan  yang  terdapat bersama pada satu suku kata.
a) Gugus konsonan pertama : /p/,/b/,/t/,/k/,/g/,/s/ dan /d/.
b) Gugus konsonan kedua : /l/,/r/ dan /w/.
c) Gugus konsonan ketiga : /s/,/m/,/n/ dan /k/.
d) Gugus  konsonan  keduanya  adalah  konsonan  lateral  /l/, misalnya : /pl/ [pleno] /pleno/.
e) Jika tiga konsonan berderet, maka konsonan pertama selalu /s/, yang kedua /t/,/p/ dan /k/ dan yang ketiga adalah /r/ atau /l/. Contohnya : /spr/ [sprey] /sprei.
2.  kajian fonem
Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna (KBBI). Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.
Gejala Fonologi Bahasa Indonesia
a.      Penambahan Fonem: Penambahan  fonem  pada  suatu  kata  pada  umumnya  berupa penambahan bunyi vokal. Penambahan ini dilakukan untuk kelancaran ucapan.
b.      Penghilangan Fonem: Penghilangan fonem adalah hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata tanpa mengubah makna. Penghilangan ini biasanya berupa pemendekan kata.
c.       Perubahan Fonem
Perubahan fonem adalah berubahnya bunyi atau fonem pada sebuah kata agar kata menjadi terdengar dengan jelas atau untuk tujuan tertentu.
d.      Kontraksi
Kontraksi adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem  yang  dihilangkan.  Kadang-kadang  ada  perubahan  atau penggantian fonem.
e.      Analogi
Analogi  adalah  pembentukan  suatu  kata  baru  berdasarkan  suatu contoh yang sudah ada (Keraf, 1987:133).
f.        Fonem Suprasegmental
Fonem  vokal  dan  konsonan  merupakan  fonem  segmental  karena dapat  diruas-ruas.  Fonem  tersebut  biasanya  terwujud  bersama-sama dengan ciri suprasegmental seperti tekanan, jangka dan nada. Di samping ketiga ciri itu, pada untaian terdengar pula ciri suprasegmental lain, yakni intonasi dan ritme.
1.      Jangka, yaitu panjang pendeknya bunyi yang diucapkan. Tanda […]
2.      Tekanan,  yaitu  penonjolan  suku  kata  dengan  memperpanjang pengucapan, meninggikan nada dan memperbesar intensitas tenaga dalam pengucapan suku kata tersebut.
3.      Jeda atau sendi, yaitu ciri berhentinya pengucapan bunyi.
4.      Intonasi, adalah ciri suprasegmental yang berhubungan dengan naik turunnya nada dalam pelafalan kalimat.
5.      Ritme,adalah ciri suprasegmental yang berhubungan dengan pola pemberian tekanan pada kata dalam kalimat. Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak  membedakan  makna.  Namun,  pelafalan  kata  yang  menyimpangdalam hal tekanan, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak  membedakan  makna.  Namun,  pelafalan  kata  yang  menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal.

Daftar Isi:
Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Konsonan vokal
A = labium terbuka dan udara keluar tanpa hambatan
I = lidah lebih keatas, rahang bawah naik mendekati rahang atas
U = kedua bibir dalam posisi kebawah, dan rahang bawah keatas
E = posisi bibir relatif akan merata dengan kedua ujung bibir kesamping dan lidah kedepan
O = bibir bawah dan rahang lebih kebawah lagi, bahkan kedua bibir agak melebar

Konsonan
b = pertama kedua bibir tertutup kemudian terbuka, bunyi yang dihasilkan dengan mendapat      hambatan pada pita suara 
c = bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi
d = ujung lidah yang naik kelangit-langit keras kemudian menurun, bunyi yang dihasilkan dengan mendapat hambatan pada pita suara. Lidah bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi.
f = bunyi bahasa yang dihasilkan dengan mendapat hambatan pada artikulator, gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulator
g = dihasilakan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
h = bunyi mendapat hambatan pada artikulator, pita suara terbuka lebar sehingga udara keluar digesekkan melalui glottis
j = bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi
k = bunyi yang dihasilkan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
l = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
m = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara
n = ujung lidah naik keatas langit-langit keras menutup arus udara keluar,ujung lidah brtindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi
p = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator
q = dihasilakn oleh pangkal lidah dan anak tekak
r = ujung lidah mengelatar melawan lekung kaki gigi dengan waktu yang sama, ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
s = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator, ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
t = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator. Ujung lidah bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi
v = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulator
w = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara
x = dihasilkan oleh akar lidah dan dinding belakang rongga kerongkongan, belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
y = bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai artikulasi
z = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi

huruf diftong
diftong adalah bunyi vokal angkap yang tergolong menjadi satu suku kata. Ciri diftong posisi lidah yang satu dengan yang lain saling berbeda. Perbedaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturya (jarak lidah dengan langit-langit).
ai = kata “pakai” diftong naik, kata “pandai” diftong turun
oi = kata “amboi” diftong naik, kata “boikot” diftong turun
au = kata “harimau” diftong naik, kata “saudara” diftong turun

gabungan huruf konsonan (kluster)
gabungan huruf konsonan masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan
kh = bunyi yang dihasilkan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, dan bunyi mendapat hambatan pada artikulator (contoh kata: posisi awal “khusus”, posisi tengah “akhir”, posisi akhir “tarikh”)
ng = ujung lidah naik keatas langit-langit kers menutup arus udara keluar, dan dihasilakan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak (contoh kata: posisi awal “ngilu”, posisi tengah “bangun”, posisi akhir “senang”)
ny = ujung lidah naik keatas langit-langit kers menutup arus udara keluar, dan bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai artikulasi (contoh kata: posisi awal “nyata”, posisi tengah “banyak”)
sy = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator, dan bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai artikulasi (contoh kata: posisi awal “syarat”, posisi tengah “isyarat, posisi akhir “arasy”)