A. Pengertian Fonologi
Fonologi adalah ilmu
bahasa yang mempelajari tentang
bunyi-bunyi bahasa. Kata fonologi berasal dari gabungan kata fon (bunyi) dan
logi (ilmu).
B.
Cabang Fonologi
Cabang Fonologi![]() |
1. Kajian Fonetik
a. Klasifikasi Bunyi
v Berdasarkan ada
tidaknya rintangan terhadap
arus udara dalam saluran suara.
a) Vokal adalah bunyi bahasa
yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada
artikulasi.
b) Konsonan adalah
bunyi bahasa yang
dibentuk dengan menghambat arus
udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi.
c) Bunyi semi-vokal adalah bunyi
yang secara praktis termasuk konsonan,
tetapi karena pada
waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni.
v Berdasarkan jalan
keluarnya arus udara.
a) Bunyi nasal, yaitu bunyi
yang dihasilkan dengan menutup arus udara ke
luar melalui rongga mulut dan membuka jalan agar arus udara dapat keluar
melalui rongga hidung.
b) Bunyi oral,
yaitu bunyi yang
dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung
anak tekak mendekati langit-langit
lunak untuk menutupi rongga
hidung, sehingga arus
udara keluar melalui mulut.
v Berdasarkan ada tidaknya
ketegangan arus udara saat bunyi di artikulasikan.
a) Bunyi keras
(fortis), yaitu bunyi
bahasa yang pada
waktu diartikulasikan disertai ketegangan kuat arus.
b) Bunyi lunak (lenis), yaitu
bunyi yang pada waktu diartikulasikan tidak disertai ketegangan kuat arus.
v Berdasarkan lamanya
bunyi pada waktu
diucapkan atau diartikulasikan
a) Bunyi panjang
b) Bunyi pendek
v Berdasarkan derajat
kenyaringannya
Bunyi dibedakan menjadi
bunyi nyaring dan bunyi tak nyaring. Derajat
kenyaringan ditentukan oleh luas atau
besarnya ruang resonansi pada
waktu bunyi diucapkan. Makin luas ruang resonansi saluran bicara
waktu membentuk bunti,
makin tinggi derajat kenyaringannya. Begitu pula
sebaliknya.
v Berdasarkan perwujudannya
dalam suku kata
a) Bunyi tunggal, yaitu bunyi yang berdiri
sendiri dalam satu suku kata (semua bunyi vokal atau monoftong dan konsonan).
b) Bunyi rangkap, yaitu dua
bunyi atau lebih yang terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap terdiri dari
c) Diftong (vokal rangkap) :
[ai], [au] dan [oi].
d) Klaster (gugus konsonan) :
[pr], [kr], [tr] dan [bl].
v Berdasarkan arus udara
![]() |
b. Pembentukan Vokal,
Konsonan, Diftong, dan Kluster
1)
Pembentukan vocal
Vocal
adalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh arus udara dari paru-paru melalui pita
suara dan penyempitan pada saluran suara diatas glotis (KBBI). Berikut ini
jenisjenis vokal berdasarkan cara pembentukannya, yakni:
1. Berdasarkan bentuk bibir :
vokal bulat, vokal netral, dan vocal tak bulat;
2. Berdasarkan tinggi
rendahnya lidah : vokal tinggi ([i],[l],[u]), vokal madya ([e],[o],[c]) dan
vokal rendah [a].
3. Berdasarkan bagian lidah
yang bergerak : vokal depan ([i],[l],[e],[a]), vocal tengah [a], dan vokal
belakang ([o],[c],[u],
4. Berdasarkan strukturnya : vokal tertutup,
vokal semi-tertutup ([e], [o],[l],[U]), vokal semi-terbuka ([a],[c]), dan vokal
terbuka [a].
2) Pembentukan konsonan
Konsonan adalah bunyi bahasa yang dihasilakn dengan menghambat aliran
udara pada salah satu tempat di saluran di atas glotis (KBBI). Berikut ini
klasifikasi konsonan tersebut:
1. Berdasarkan daerah
artikulasi : konsonan bilabial, labio dental, apikodental, apikoalveolar,
palatal, velar, glotal, dan laringal;
2. Berdasarkan cara
artikulasi : konsonan hambat, frikatif, getar, lateral, nasal, dan semi-vokal;
3. Berdasarkan keadaan
pita suara :
konsonan bersuara dan konsonan tak bersuara;
Ø Konsonan
bersuara, yaitu bila pita suara turut bergetar: b, d n. g, w, dan sebagainya.
Ø konsonan
tak bersuara, yaitu bila pita suara tidak bergetar: p, t, c, k, dan sebagainya.
4. Berdasarkan jalan
keluarnya udara :
konsonan oral dan konsonan nasal.
Ø Konsonan
oral, yaitu bila udaranya keluar melalui rongga mulut (mulut = Latin: os,
-oris), misalnya p, b, k, d, w, dan sebagainya.
Ø konsonan
nasal, yaitu bila udaranya keluar melalui rongga hidung (hidung = Latin:
nasus), misalnya: m. n, ny, ng.
3) Pembentukan diftong
Diftong adalah bunyi vocal rangkap yang tergolong dalam satu suku kata.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia diftong terbagi menjadi:
a. Diftong lebar: Diftong
yang terjadi dengan perubahan letak lidah yang agak banyak. Contohnya ai pada santai.
b. Diftong naik: Diftong yang
bagian paling nyaringnya terdapat
sesudah peluncurannya.
c. Diftong sempit: Diftong
yang terjadi dengan sedikit perubahan letak lidah. Contohnya ei pada survey.
d. Diftong turun:n Diftong
yang bagian paling nyaringnya terdapat sebelum peluncurannya. Contohnya au pada kerbau.
4) Pembentukan Kluster
Gugus atau kluster
adalah deretan konsonan
yang terdapat bersama pada satu
suku kata.
a) Gugus konsonan pertama : /p/,/b/,/t/,/k/,/g/,/s/ dan /d/.
b) Gugus konsonan kedua : /l/,/r/ dan /w/.
c) Gugus konsonan ketiga : /s/,/m/,/n/ dan /k/.
d) Gugus konsonan keduanya
adalah konsonan lateral
/l/, misalnya : /pl/ [pleno] /pleno/.
e) Jika tiga konsonan berderet, maka konsonan pertama selalu /s/, yang
kedua /t/,/p/ dan /k/ dan yang ketiga adalah /r/ atau /l/. Contohnya : /spr/
[sprey] /sprei.
2. kajian fonem
Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu
menunjukkan kontras makna (KBBI). Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau
berfungsi membedakan makna kata.
Gejala Fonologi Bahasa Indonesia
a. Penambahan Fonem: Penambahan fonem
pada suatu kata
pada umumnya berupa penambahan bunyi vokal. Penambahan ini
dilakukan untuk kelancaran ucapan.
b. Penghilangan Fonem: Penghilangan
fonem adalah hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata
tanpa mengubah makna. Penghilangan ini biasanya berupa pemendekan kata.
c. Perubahan Fonem
Perubahan fonem adalah
berubahnya bunyi atau fonem pada sebuah kata agar kata menjadi terdengar dengan
jelas atau untuk tujuan tertentu.
d. Kontraksi
Kontraksi adalah gejala
yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang
dihilangkan. Kadang-kadang ada
perubahan atau penggantian fonem.
e. Analogi
Analogi adalah
pembentukan suatu kata
baru berdasarkan suatu contoh yang sudah ada (Keraf,
1987:133).
f.
Fonem Suprasegmental
Fonem vokal
dan konsonan merupakan
fonem segmental karena dapat
diruas-ruas. Fonem tersebut
biasanya terwujud bersama-sama dengan ciri suprasegmental
seperti tekanan, jangka dan nada. Di samping ketiga ciri itu, pada untaian
terdengar pula ciri suprasegmental lain, yakni intonasi dan ritme.
1. Jangka, yaitu panjang
pendeknya bunyi yang diucapkan. Tanda […]
2. Tekanan, yaitu
penonjolan suku kata
dengan memperpanjang pengucapan,
meninggikan nada dan memperbesar intensitas tenaga dalam pengucapan suku kata
tersebut.
3. Jeda atau sendi, yaitu
ciri berhentinya pengucapan bunyi.
4. Intonasi, adalah ciri
suprasegmental yang berhubungan dengan naik turunnya nada dalam pelafalan
kalimat.
5. Ritme,adalah ciri
suprasegmental yang berhubungan dengan pola pemberian tekanan pada kata dalam
kalimat. Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia
tidak membedakan makna.
Namun, pelafalan kata
yang menyimpangdalam hal tekanan,
dan nada dalam bahasa Indonesia tidak
membedakan makna. Namun,
pelafalan kata yang
menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal.
Daftar Isi:
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Konsonan
vokal
A = labium terbuka dan udara
keluar tanpa hambatan
I = lidah lebih keatas,
rahang bawah naik mendekati rahang atas
U = kedua bibir dalam
posisi kebawah, dan rahang bawah keatas
E = posisi bibir
relatif akan merata dengan kedua ujung bibir kesamping dan lidah kedepan
O = bibir bawah dan
rahang lebih kebawah lagi, bahkan kedua bibir agak melebar
Konsonan
b
= pertama kedua bibir tertutup kemudian terbuka, bunyi yang dihasilkan dengan
mendapat hambatan pada pita suara
c
= bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik
artikulasi
d
= ujung lidah yang naik kelangit-langit keras kemudian menurun, bunyi yang
dihasilkan dengan mendapat hambatan pada pita suara. Lidah bertindak sebagai
artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi.
f
= bunyi bahasa yang dihasilkan dengan mendapat hambatan pada artikulator, gigi
atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulator
g
= dihasilakan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, belakang lidah
sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
h
= bunyi mendapat hambatan pada artikulator, pita suara terbuka lebar sehingga
udara keluar digesekkan melalui glottis
j
= bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik
artikulasi
k
= bunyi yang dihasilkan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, belakang
lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
l
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, ujung lidah sebagai
artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
m
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara
n
= ujung lidah naik keatas langit-langit keras menutup arus udara keluar,ujung
lidah brtindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik
artikulasi
p
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator
q
= dihasilakn oleh pangkal lidah dan anak tekak
r
= ujung lidah mengelatar melawan lekung kaki gigi dengan waktu yang sama, ujung
lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
s
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator, ujung lidah sebagai
artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
t
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator. Ujung lidah
bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi
v
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, gigi atas sebagai
titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulator
w
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara
x
= dihasilkan oleh akar lidah dan dinding belakang rongga kerongkongan, belakang
lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
y
= bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai
artikulasi
z
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, ujung lidah sebagai
artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
huruf diftong
diftong adalah bunyi
vokal angkap yang tergolong menjadi satu suku kata. Ciri diftong posisi lidah
yang satu dengan yang lain saling berbeda. Perbedaan itu menyangkut tinggi
rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturya (jarak lidah
dengan langit-langit).
ai
= kata “pakai” diftong naik, kata “pandai” diftong turun
oi
= kata “amboi” diftong naik, kata “boikot” diftong turun
au
= kata “harimau” diftong naik, kata “saudara” diftong turun
gabungan huruf konsonan
(kluster)
gabungan
huruf konsonan masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan
kh
= bunyi yang dihasilkan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, dan bunyi
mendapat hambatan pada artikulator (contoh kata: posisi awal “khusus”, posisi
tengah “akhir”, posisi akhir “tarikh”)
ng
= ujung lidah naik keatas langit-langit kers menutup arus udara keluar, dan
dihasilakan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak (contoh kata: posisi
awal “ngilu”, posisi tengah “bangun”, posisi akhir “senang”)
ny
= ujung lidah naik keatas langit-langit kers menutup arus udara keluar, dan
bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai
artikulasi (contoh kata: posisi awal “nyata”, posisi tengah “banyak”)
sy
= bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator, dan bagian tengah
lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai artikulasi (contoh
kata: posisi awal “syarat”, posisi tengah “isyarat, posisi akhir “arasy”)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar