Sabtu, 25 Maret 2017

fonologi bahasa



A.      Pengertian Fonologi
Fonologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari  tentang bunyi-bunyi bahasa. Kata fonologi berasal dari gabungan kata fon (bunyi) dan logi (ilmu).
B.      Cabang Fonologi


 







1.      Kajian Fonetik
a.      Klasifikasi Bunyi
v  Berdasarkan  ada  tidaknya  rintangan  terhadap  arus  udara dalam saluran suara.
a)      Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi.
b)      Konsonan  adalah  bunyi  bahasa  yang  dibentuk  dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi.
c)      Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan,  tetapi  karena  pada  waktu  diartikulasikan  belum membentuk konsonan murni.

v  Berdasarkan jalan keluarnya arus udara.
a)      Bunyi nasal, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menutup arus udara ke  luar melalui rongga mulut dan membuka jalan agar arus udara dapat keluar melalui rongga hidung.
b)      Bunyi  oral,  yaitu  bunyi  yang  dihasilkan  dengan  jalan mengangkat  ujung  anak  tekak  mendekati  langit-langit  lunak untuk  menutupi  rongga  hidung,  sehingga  arus  udara  keluar melalui mulut.

v  Berdasarkan ada tidaknya ketegangan arus udara saat bunyi di artikulasikan.
a)      Bunyi  keras  (fortis),  yaitu  bunyi  bahasa  yang  pada  waktu diartikulasikan disertai ketegangan kuat arus.
b)      Bunyi lunak (lenis), yaitu bunyi yang pada waktu diartikulasikan tidak disertai ketegangan kuat arus.
v  Berdasarkan  lamanya  bunyi  pada  waktu  diucapkan  atau diartikulasikan
a) Bunyi panjang
b) Bunyi pendek


v  Berdasarkan derajat kenyaringannya
Bunyi dibedakan menjadi bunyi nyaring dan bunyi tak nyaring. Derajat  kenyaringan  ditentukan  oleh  luas  atau  besarnya  ruang resonansi pada waktu bunyi diucapkan. Makin luas ruang resonansi saluran  bicara  waktu  membentuk  bunti,  makin  tinggi  derajat kenyaringannya. Begitu pula sebaliknya.
v  Berdasarkan perwujudannya dalam suku kata
a)       Bunyi tunggal, yaitu bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata (semua bunyi vokal atau monoftong dan konsonan).
b)      Bunyi rangkap, yaitu dua bunyi atau lebih yang terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap terdiri dari
c)      Diftong (vokal rangkap) : [ai], [au] dan [oi].
d)      Klaster (gugus konsonan) : [pr], [kr], [tr] dan [bl].

v  Berdasarkan arus udara


 











b.      Pembentukan Vokal, Konsonan, Diftong, dan Kluster
1)      Pembentukan vocal
                        Vocal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh arus udara dari paru-paru melalui pita suara dan penyempitan pada saluran suara diatas glotis (KBBI). Berikut ini jenisjenis vokal berdasarkan cara pembentukannya, yakni:
1.   Berdasarkan bentuk bibir : vokal bulat, vokal netral, dan vocal tak bulat;
2.   Berdasarkan tinggi rendahnya lidah : vokal tinggi ([i],[l],[u]), vokal madya ([e],[o],[c]) dan vokal rendah [a].
3.   Berdasarkan bagian lidah yang bergerak : vokal depan ([i],[l],[e],[a]), vocal tengah [a], dan vokal belakang ([o],[c],[u],
4.    Berdasarkan strukturnya : vokal tertutup, vokal semi-tertutup ([e], [o],[l],[U]), vokal semi-terbuka ([a],[c]), dan vokal terbuka [a].
2)      Pembentukan konsonan
Konsonan adalah bunyi bahasa yang dihasilakn dengan menghambat aliran udara pada salah satu tempat di saluran di atas glotis (KBBI). Berikut ini klasifikasi konsonan tersebut:
1.      Berdasarkan daerah artikulasi : konsonan bilabial, labio dental, apikodental, apikoalveolar, palatal, velar, glotal, dan laringal;
2.      Berdasarkan cara artikulasi : konsonan hambat, frikatif, getar, lateral, nasal, dan semi-vokal;
3.      Berdasarkan  keadaan  pita  suara  :  konsonan  bersuara  dan konsonan tak bersuara;
Ø  Konsonan bersuara, yaitu bila pita suara turut bergetar: b, d n. g, w, dan sebagainya.
Ø  konsonan tak bersuara, yaitu bila pita suara tidak bergetar: p, t, c, k, dan sebagainya.
4.      Berdasarkan  jalan  keluarnya  udara  :  konsonan  oral  dan konsonan nasal.
Ø  Konsonan oral, yaitu bila udaranya keluar melalui rongga mulut (mulut = Latin: os, -oris), misalnya p, b, k, d, w, dan sebagainya.
Ø  konsonan nasal, yaitu bila udaranya keluar melalui rongga hidung (hidung = Latin: nasus), misalnya: m. n, ny, ng.
3)      Pembentukan diftong
Diftong adalah bunyi vocal rangkap yang tergolong dalam satu suku kata.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia diftong terbagi menjadi:
a.      Diftong lebar: Diftong yang terjadi dengan perubahan letak lidah yang agak banyak. Contohnya ai pada santai.
b.      Diftong naik: Diftong yang bagian paling nyaringnya  terdapat sesudah peluncurannya.
c.       Diftong sempit: Diftong yang terjadi dengan sedikit perubahan letak lidah. Contohnya ei pada survey.
d.      Diftong turun:n Diftong yang bagian paling nyaringnya terdapat sebelum peluncurannya. Contohnya au pada kerbau.
4)      Pembentukan Kluster
Gugus  atau  kluster  adalah  deretan  konsonan  yang  terdapat bersama pada satu suku kata.
a) Gugus konsonan pertama : /p/,/b/,/t/,/k/,/g/,/s/ dan /d/.
b) Gugus konsonan kedua : /l/,/r/ dan /w/.
c) Gugus konsonan ketiga : /s/,/m/,/n/ dan /k/.
d) Gugus  konsonan  keduanya  adalah  konsonan  lateral  /l/, misalnya : /pl/ [pleno] /pleno/.
e) Jika tiga konsonan berderet, maka konsonan pertama selalu /s/, yang kedua /t/,/p/ dan /k/ dan yang ketiga adalah /r/ atau /l/. Contohnya : /spr/ [sprey] /sprei.
2.  kajian fonem
Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna (KBBI). Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.
Gejala Fonologi Bahasa Indonesia
a.      Penambahan Fonem: Penambahan  fonem  pada  suatu  kata  pada  umumnya  berupa penambahan bunyi vokal. Penambahan ini dilakukan untuk kelancaran ucapan.
b.      Penghilangan Fonem: Penghilangan fonem adalah hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata tanpa mengubah makna. Penghilangan ini biasanya berupa pemendekan kata.
c.       Perubahan Fonem
Perubahan fonem adalah berubahnya bunyi atau fonem pada sebuah kata agar kata menjadi terdengar dengan jelas atau untuk tujuan tertentu.
d.      Kontraksi
Kontraksi adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem  yang  dihilangkan.  Kadang-kadang  ada  perubahan  atau penggantian fonem.
e.      Analogi
Analogi  adalah  pembentukan  suatu  kata  baru  berdasarkan  suatu contoh yang sudah ada (Keraf, 1987:133).
f.        Fonem Suprasegmental
Fonem  vokal  dan  konsonan  merupakan  fonem  segmental  karena dapat  diruas-ruas.  Fonem  tersebut  biasanya  terwujud  bersama-sama dengan ciri suprasegmental seperti tekanan, jangka dan nada. Di samping ketiga ciri itu, pada untaian terdengar pula ciri suprasegmental lain, yakni intonasi dan ritme.
1.      Jangka, yaitu panjang pendeknya bunyi yang diucapkan. Tanda […]
2.      Tekanan,  yaitu  penonjolan  suku  kata  dengan  memperpanjang pengucapan, meninggikan nada dan memperbesar intensitas tenaga dalam pengucapan suku kata tersebut.
3.      Jeda atau sendi, yaitu ciri berhentinya pengucapan bunyi.
4.      Intonasi, adalah ciri suprasegmental yang berhubungan dengan naik turunnya nada dalam pelafalan kalimat.
5.      Ritme,adalah ciri suprasegmental yang berhubungan dengan pola pemberian tekanan pada kata dalam kalimat. Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak  membedakan  makna.  Namun,  pelafalan  kata  yang  menyimpangdalam hal tekanan, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak  membedakan  makna.  Namun,  pelafalan  kata  yang  menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal.

Daftar Isi:
Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Konsonan vokal
A = labium terbuka dan udara keluar tanpa hambatan
I = lidah lebih keatas, rahang bawah naik mendekati rahang atas
U = kedua bibir dalam posisi kebawah, dan rahang bawah keatas
E = posisi bibir relatif akan merata dengan kedua ujung bibir kesamping dan lidah kedepan
O = bibir bawah dan rahang lebih kebawah lagi, bahkan kedua bibir agak melebar

Konsonan
b = pertama kedua bibir tertutup kemudian terbuka, bunyi yang dihasilkan dengan mendapat      hambatan pada pita suara 
c = bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi
d = ujung lidah yang naik kelangit-langit keras kemudian menurun, bunyi yang dihasilkan dengan mendapat hambatan pada pita suara. Lidah bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi.
f = bunyi bahasa yang dihasilkan dengan mendapat hambatan pada artikulator, gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulator
g = dihasilakan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
h = bunyi mendapat hambatan pada artikulator, pita suara terbuka lebar sehingga udara keluar digesekkan melalui glottis
j = bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi
k = bunyi yang dihasilkan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
l = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
m = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara
n = ujung lidah naik keatas langit-langit keras menutup arus udara keluar,ujung lidah brtindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi
p = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator
q = dihasilakn oleh pangkal lidah dan anak tekak
r = ujung lidah mengelatar melawan lekung kaki gigi dengan waktu yang sama, ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
s = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator, ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi
t = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator. Ujung lidah bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi
v = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulator
w = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara
x = dihasilkan oleh akar lidah dan dinding belakang rongga kerongkongan, belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut sebagai artikulasi
y = bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai artikulasi
z = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada pita suara, ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi sebagai titik artikulasi

huruf diftong
diftong adalah bunyi vokal angkap yang tergolong menjadi satu suku kata. Ciri diftong posisi lidah yang satu dengan yang lain saling berbeda. Perbedaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturya (jarak lidah dengan langit-langit).
ai = kata “pakai” diftong naik, kata “pandai” diftong turun
oi = kata “amboi” diftong naik, kata “boikot” diftong turun
au = kata “harimau” diftong naik, kata “saudara” diftong turun

gabungan huruf konsonan (kluster)
gabungan huruf konsonan masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan
kh = bunyi yang dihasilkan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak, dan bunyi mendapat hambatan pada artikulator (contoh kata: posisi awal “khusus”, posisi tengah “akhir”, posisi akhir “tarikh”)
ng = ujung lidah naik keatas langit-langit kers menutup arus udara keluar, dan dihasilakan oleh pangkal lidah dan langit-langit lunak (contoh kata: posisi awal “ngilu”, posisi tengah “bangun”, posisi akhir “senang”)
ny = ujung lidah naik keatas langit-langit kers menutup arus udara keluar, dan bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai artikulasi (contoh kata: posisi awal “nyata”, posisi tengah “banyak”)
sy = bunyi yang dihasilkan mendapat hambatan pada artikulator, dan bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langi-langit keras sebagai artikulasi (contoh kata: posisi awal “syarat”, posisi tengah “isyarat, posisi akhir “arasy”)   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar